Skip to content Skip to sidebar Skip to footer
Blogger Jateng

Gancaran/Parafrase Tembang Gambuh Serat Wedhatama

Apa itu Gancaran ? Gancaran adalah salah satu cara untuk mengetahui isi dari sebuah tembang atau geguritan. Gancaran juga biasa disebut dengan Parafrase, yaitu proses penarasian sebuah puisi ataupun lagu (Tembang).

Gancaran Tembang Gambuh Serat Wedhatama

Tembang Gambuh merupakan sebuah tembang bagian dari Serat Wedhatama yang ditulis oleh KGPAA Mangkunegara IV Kesultanan Yogyakarta.

Ada beberapa cara untuk menggancarakan atau memparafrasekan sebuah tembang, yaitu dengan cara sebagai berikut :

1. Gancaran terikat, yaitu menambahkan satu atau dua kata agar tembang bisa diketahui maksudnya.

2. Gancaran bebas, yaitu merubah keseluruhan teks pada tembang dengan menggunakan bahasa sendiri.

Tembang gambuh adalah salah satu tembang macapat yang berjumlah 11, tembang ini berada pada urutan ke 6 pada filosofi tembang.

Filosofi Tembang Gambuh yaitu memiliki arti cocok, lengkap, dan sarujuk. Artinya adalah tembang gambuh mewakili sebuah proses manusia yang saling cocok satu sama lain, dan saling melengkapi dalam hal hubungan pernikahan.

Tembang Gambuh ini juga bisa digunakan untuk menggambarkan selaras, cocok, dan juga santai. Tembang ini bisa digunakan untuk bercerita ataupun menyampaikan nasihat.

Dalam serat Wedhatama, Tembang Gambuh ini ada pada posisi pupuh ke empat, yang sebelumnya adalah pangkur, sinom, pocung, gambuh, dan yang terakhir adalah kinanthi.

Pupuh Gambuh dalam Serat Wedhatama ini berjumlah 34 bait atau pada. Kesemua pada itu sama, dan tidak ada yang ingkar dari aturan ataupun paugeran tembah gambuh itu sendiri.

Gancaran Tembah Gambuh Serat Wedhatama Pada 1 - 35

Pada 1
Samengko ingsun tutur,
sembah catur supaya lumuntur,
dihin raga, cipta jiwa, rasa, kaki,
ing kono lamun tinemu,
tandha nugrahing manon.

Atinya :
Kelak saya bertutur,
Empat macam sembah supaya dilestarikan,
antara lain sembah raga, cipta, jiwa, rasa, anakku!
disanalah akan bertemu,
tandha anugrah tuhan.

Pada 2
sembah raga punika,
pakartine wong amagang laku,
susucine asarana saking warih,
kang wus lumrah limang wektu,
wantu wataking wawaton,

Artinya :
sembah raga adalah,
perbuatan orang yang olah batin,
menyucikan diri dengan sarana air,
yang sudah biasa lima waktu,
sebagai rasa hormat terhadap waktu.

Pada 3
Inguni-uni ersua,
Sinarawung wulang kang sinerung,
lagi iki bangsa kas ngetok-ken anggit,
mintoken kawagnyanipun,
sarengate elok-elok.

Artinya
Pada zaman dahulu,
Belum pernah dikenal ajaran yang penuh tabir,
Baru kali ini ada orang menunjukkan hasil rekaan,
Memamerkan kebiasaannya,
amalannya aneh-aneh.

Pada 4
Thithik kaya santri Dul,
Gajeg kaya santri brahi kidul,
Saurute Pacitan pinggir pasisir,
Ewon wong kang padha nggugu,
Anggere guru nyalemong.

Artinya

Kadang seperti santri Dul,
Seperti santri wilayah selatan,
Sepanjang pinggir pantai Pacitan,
Ribuan rang yang mempercayai,
Asal-asalan dalam berbicara.

Pada 5
Kasusu arsa weruh,
cahyaning Hyang kinira yen karuh,
ngarep-arep urup arsa den kurebi,
Tan wruh kang mangkoko iku,
akale keliru enggon.

Artinya

Terburu-buru ingin tahu,
Cahaya Tuhan dikira dapat ditemukan,
Menanti-nanti besar keinginan mendapatkan anugrah,
Namun gelap mataOrang tidak paham yang demikian itu,
Nalarnya sudah salah kaprah.

Pada 6
Yen ta jaman rumuhun,
tata titi tumrah tumaruntun,
bangsa srengat tan winor lan laku batin,
dadi ora gawe bingung,
kang padha nembah Hyang Manon.


Artinya
Bila zaman dahulu,
Tertib teratur runtut harmonissariat
Tidak dicampur aduk dengan olah batin,
Jadi tidak membuat bingung,
bagi yang menyembah Tuhan.


Pada 7
Lire sarengat iku,
kena uga ingaranan laku,
dihin ajeg kapindhone ataberi,
pakolehe putraningsun,
nyenyeger badan mwih kaot.


Artinya
Sesungguhnya sariat itu
Dapat disebut olah,
Pertama tetap kedua tekun.
Anakku, hasil sariat adalah,
Menyegarkan badan agar lebih baik,


Pada 8
Wong seger badanipun,
otot daging kulit balung sungsum,
tumrah ing rah memarah antenging ati,
antenging ati nunungku,
angruwat ruweting batos.


Artinya
Orang segar badannya,
Otot, daging, kulit dan tulang sungsumnya
Mempengaruhi darah membuat tenang di hati.
Ketenangan hati membantu,
Membersihkan kekusutan batin.


Pada 9
Mangkono mungguh ingsun,
ananging ta sarehne asnafun,
beda-beda panduk panduming dumadi,
sayektine nora jumbuh,
tekad kang padha linakon.

Artinya
Begitulah menurut ku,
Tetapi karena orang itu berbeda-beda,
Beda pula garis pembagian nasib,
Sebenarnya tidak cocok,
Tekad yang pada dijalankan itu.

Pada 10
Nanging ta paksa tutur,
rehning tuwa tuwase mung catur,
bok lumuntur lantaraning reh utami,
sing sapa temen tinemu,
nugraha geming Kaprabon.

Artinya
Namun terpaksa  bertutur,
Karena sudah tua kewajibannya menasehati,
Siapa tahu dapat lestari menjadi pedoman tingkah laku utama,
Barang siapa bersungguh-sungguh mendapatkan,
Anugrah kemuliaan dan kehormatan.

Pada 11
Samengko sembah kalbu,
yen lumintu uga dadi laku,
laku agung kang kagungan Narapati,
patitis tetesing kawruh,
meruhi marang kang momong.

Artinya
Berikutnya sembah kalbu,
Jika berkesinambungan juga menjadi olah,
Olah tingkat tinggi yang dimiliki Raja,
Tujuan ajaran ilmu ini,
Memahami yang mengasuh diri (guru sejati/pancer).

Pada 12
Sucine tanpa banyu,
mung nyenyuda mring  ersuasi kalbu,
pambukane tata, titi, ngati-ati
atetetp talaten atul,
tuladhan marang waspaos.

Artinya
Bersucinya tidak menggunakan air
Hanya menahan nafsu di hati
Dimulai dari perilaku yang tertata, teliti dan hati-hati
Teguh, sabar dan tekun,menjadi watak dasar,
Teladan bagi sikap waspada.

Pada 13
Mring jatining pandulu,
panduk ing ndon dedalan satuhu,
lamun lugu  ersuasi reh maligi,
lageane tumalawung,
wenganing alam kinaot.

Artinya
Alam penglihatan yang sejati,
Menggapai sasaran dengan tata cara yang benar,
Biarpun sederhana tatalakunya dibutuhkan konsentrasi,
Sampai terbiasa mendengar suara sayup-sayup dalam keheningan,
Itulah terbukanya “alam lain”

Pada 14
Yen wus kambah kadyeku,
sarat sareh saniskareng laku,
kalakone saka eneng, ening, eling,
Ilanging rasa tumlawung,
kono adile Hyang Manon.

Artinya
Bila telah mencapai seperti itu,
Saratnya sabar segala tingkah laku,
Berhasilnya dengan cara membangun kesadaran, mengheningkan cipta,  pusatkan fikiran kepada Tuhan,
Dengan hilangnya rasa sayup-sayup,
Di situlah keadilan Tuhan terjadi.

Pada 15
Gagare ngunggar kayun,
tan kayungyun mring ayuning kayun,
bangsa anggit yen ginigit nora dadi,
Marma den awas den emut,
mring pamurunging lelakon.

Artinya
Gugurnya jika menuruti kemauan jasad (nafsu),
Tidak suka dengan indahnya kehendak rasa sejati,
Jika merasakan keinginan yang tidak-tidak akan gagal,
Maka awas dan ingat lah,
Dengan yang membuat gagal tujuan.

Pada 16
Samengko kang tinutur,
sembah katri kang sayekti katur,
mring Hyang Sukma sukmanen sehari-hari,
arahen dipun kecakup,
sembah ing Jiwa sutengong.

Artinya
Nanti yang diajarkan,
Sembah ketiga yang sebenarnya,
Diperuntukkan kepada Hyang sukma (jiwa) setiap hari,
Usahakan agar mencapai sembah jiwa ini anakku !

Pada 17
Sayekti luwih prelu,
ingaranan pepuntoning laku,
kalakuan kang tumrap bangsaning batin,
sucine lan Awas Emut,
mring alame alam amot.

Artinya
Sungguh lebih penting,
Yang disebut sebagai ujung jalan spiritual,
Tingkah laku olah batin,
Sucinya dengan awas dan selalu ingat,
Akan alam nan abadi kelak.

Pada 18
Ruktine ngangkah ngukut,
ngiket ngrukut triloka kakukut,
jagad agung gimulung lan jagad cilik,
Den kandel kumandel kulup,
mring kelaping alam kono.

Artinya
Cara menjaganya dengan menguasai, mengambil,
mengikat, merangkul erat tiga jagad yang dikuasai,
Jagad besar tergulung oleh jagad kecil,
Pertebal keyakinanmu anakku,
Akan kilaunya alam tersebut.

Pada 19
Keleme mawa limut,
kalamatan jroning alam kanyut,
sanyatane iku kanyatan kaki,
Sajatine yen tan emut,
sayekti tan bisa awor.

Artinya
Tenggelamnya rasa melalui suasana “remang berkabut”,
Mendapat firasat dalam alam yang menghanyutkan,
Sebenarnya hal itu kenyataan, anakku,
Sejatinya jika tidak ingat,
Sungguh tak bisa “larut”.

Pada 20
Pamete saka luyut,
sarwa sareh saliring panganyut,
lamun yitna kayitnan kang mitayani,
tarlen mung pribadinipun,
kang katon tinonton kono.

Artinya
Jalan keluarnya dari luyut (batas antara lahir dan batin),
Tetap sabar mengikuti “alam  yang menghanyutkan”,
Asal hati-hati dan waspada yang menuntaskan ,
Tidak lain hanyalah diri pribadinya,
Yang tampak terlihat di situ.

Pada 21
Nging away salah surup,
kono ana sajatining Urub,
yeku urup pangarep uriping Budi,
sumirat sirat narawung,
kadya kartika katongton.

Artinya
Tetapi jangan salah mengerti,
Di situ ada cahaya sejati,
Ialah cahaya pembimbing, ersua penghidup akal budi,
Bersinar lebih terang dan cemerlang,
Tampak bagaikan bintang.

Pada 22
Yeku wenganing kalbu,
kabukane kang wengku winengku,
wewengkone wis kawengku neng sireki,
nging sira uga kawengku,
mring kang pindha kartika byor.

Artinya
Yaitu membukanya pintu hati,
Terbukanya yang kuasa-menguasai (antara cahaya/nur dengan jiwa/roh),
Cahaya itu sudah kau (roh)  kuasaiTapi kau (roh),
juga dikuasai oleh cahaya,
yang seperti bintang cemerlang.

Pada 23
Samengko ingsun tutur,
gantya sembah ingkang kaping catur,
sembah Rasa karasa rosing dumadi,
dadine wis tanpa tuduh,
mung kalawan kasing Batos.

Artinya
Nanti ingsun ajarkan,
Beralih sembah yang ke empat,
Sembah rasa terasalah hakekat kehidupan,
Terjadinya sudah tanpa petunjuk,
Hanya dengan kesentosaan batin.

Pada 24
Kalamun  ersua lugu,
aja pisan wani ngaku-aku,
antuk siku kang mangkono iku kaki,
kena uga wenang muluk,
kalamun wus pada melok.

Artinya
Apabila belum bisa membawa diri,
Jangan sekali-kali berani mengaku-aku,
Mendapat laknat yang demikian itu anakku,
Artinya, seseorang berhak berkata,
Apabila sudah mengetahui dengan nyata.

Pada 25
Meloke ujar iku,
yen wus ilang sumelang ing kalbu,
ersu kandel kumandel ngandel mring takdir,
iku den awas den emut,
den memet yen arsa momot.

Artinya
Menghayati pelajaran ini,
Bila sudah hilang keragu-raguan hati,
Hanya percaya dengan sungguh-sungguh kepada takdir,
Itu harap diwaspadai, diingat,dicermati
Bila ingin menguasai seluruhnya.

Pada 26
Pamoring ujar iku,
kudu santosa ing budi teguh,
sarta sabar tawekal legaweng ati,
trima lila ambeh sadu,
weruh wekasing dumados.

Artinya
Melaksanakan petuah itu,
Harus kokoh pada budi pekertinya teguh,
Serta sabar tawakal lapang dada,
Menerima dan ikhlas apa adanya,
Mengerti kepercayaan yang terjadi.

Pada 27
Sabarang tindak-tanduk,
tumindake lan sakadaripun,
den ngaksama kasisipaning  ersua,
sumimpanga ing laku dur,
ersuasiv budi kang ngrodon.

Artinya
Segala perbuatan,
Dilakukan apa adanya,
lalu minta maaf atas kesalahan  ersua,
Menjauhlah dari perbuatan tercela,
(dan) watak angkara yang besar.

Pada 28
Dadya wruh iya dudu,
yeku minangka pandaming kalbu,
ersua buka ing kijab bullah agaib,
sesengkeran kang sinerung,
dumunung telenging batos.

Artinya
Sehingga tahu baik dan buruk,
Demikian itu sebagai ketetapan hati,
Yang membuka penghalang/tabir  antara ersua dan Tuhan,
Tersimpan dalam rahasia,
Terletak di dalam batin.

Pada 29
Rasaning urip iku
krana momor pamoring sawujud,
wujuddullah sumrambah ngalam sakalir,
lir manis kalawan madu,
endi arane ing kono.

Artinya
Rasa hidup itu,
Dengan cara manunggal dalam satu wujud,
Wujud Tuhan meliputi alam semesta,
bagaikan rasa manis dengan madu.,
Begitulah ungkapannya.

Pada 30
Endi manis endi madu,
yen wis bisa nuksmeng pasang semu,
pasamaoning hebing kang Maha Suci,
kasikep ing tyas kacakup,
kasat mata lair batos.

Artinya
Mana manis mana madu,
Apabila sudah bisa menghayati gambaran itu,
Bagaimana pengertian sabda Tuhan,
Hendaklah digenggam di dalam hati,
Sudah jelas dipahami secara lahir dan batin.

Pada 31
Ing batin tan keliru,
kedhap kilap liniling ing kalbu,
kang minangka colok celaking Hyang Widi,
widadaning budi sadu,
pandak panduking liru nggon.

Artinya
Dalam batin tak keliru,
Segala cahaya indah dicermati dalam hati,
Yang menjadi petunjuk dalam memahami hakekat Tuhan, Selamatnya karena budi (bebuden)  yang jujur (hilang nafsu), Agar dapat merasuk beralih “tempat”.

Pada 32
Nggonira mrih tulus,
kalaksitaning reh kang rinuruh,
ngayanira mrih wikal warananing gaib,
paranta lamun tan weruh,
sasmita jatining endhog.

Artinya
Agar usahamu berhasil,
Dapat menemukan apa yang dicari,
Upayamu agar dapat melepas penghalang kegaiban,
Apabila kamu tidak paham maka lihatlah,
Tentang bagaimana terjadinya telur.

Pada 33
Putih lan kuningpun,
lamun arsa titah teka mangsul,
dene nora mantra-mantra yen ing lair,
bisa aliru wujud,
kadadeyane ing kono.

Artinya
Putih dan kuningnya,
Bila akan mewujud (menetas),
Wujud datang berganti,
Tak disangka-sangka bila kelahirannya,
Dapat berganti wujud,
Kejadiannya di situ.

Pada 34
Istingarah tan metu,
lawan istingarah tan lumebu,
dene ing njro wekasane dadi njawi,
raksana kang tuwajuh,
aja kongsi kabasturon.

Atinya
Dipastikan tidak keluar,
Juga tidak masuk,
Kenyataannya yang di dalam akhirnya menjadi di luar,
Rasakan sunguh-sungguh,
Jangan sampai terlanjur tak bisa memahami.

Pada 35
Karana yen kebanjur,
kajantaka tumekeng  ersua,
tanpa tuwas yen tiwasa ing dumadi,
dadi wong ina tan wruh,
dheweke den anggep dhayoh.

Artinya
Karena jika terlanjur,
Kajantaka tumekeng  ersua,
Tanpa tuwas kalau sia-sia dalam kejadian,
Jadi orang hina tapi mengerti,
Dia di anggap dhayoh

Admin
Admin Selamat Bergabung dan Membaca! Jangan Lupa Share.

Post a Comment for "Gancaran/Parafrase Tembang Gambuh Serat Wedhatama"